fisiolologi planaria

Klasifikasi platyhelmynthes ada 3 kelas, (Gegenbaur,1859) :

  1. Kelas Turbelaria
  2. Kelas Trematoda
  3. Kelas Cestoda

Karakateristik

Triplobastik, simetri bilateral, Aselomata.  Kelas Turbellaria, hidup bebas, untuk Trematoda dan Cestoda bersifat parasit.

Kelas Turbellaria

Contoh : Planaria sp

1.      Ciri umum

Hewan dari kelas Turbellaria memiliki tubuh bentuk tongkat atau bentuk rabdit (Yunani : rabdit = tongkat). Hewan ini biasanya hidup di air tawar yang jernih, air laut atau tempat lembab dan jarang sebagai parasit. Tubuh memiliki dua mata dan tanpa alat hisap.

Hewan ini mempunyai kemampuan yang besar untuk beregenerasi dengan cara memotong tubuhnya seperti tampak pada gambar 5 di atas. Contoh Turbellaria antara lain Planaria dengan ukuran tubuh kira-kira 0,5 – 1,0 cm dan Bipalium yang mempunyai panjang tubuh sampai 60 cm dan hanya keluar di malam hari.
Permukaan tubuh Planaria bersilia dan kira-kira di tengah mulut terdapat proboscis (tenggorok yang dapat ditonjolkan keluar) seperti pada gambar berikut.

  1.  2.      Habitat

Hidup bebas di perairan air tawar yang jernih dan tidak mengalir, biasanya di tempat-tempat yang teduh( batuan, bawah daun yang jatuh)

  1. Struktur tubuh

Tubuh pipih dorsoventral, kepala berbentuk segitiga memiliki  tonjolan 2 keping disisi lateral (aurikel), ekor meruncing. Panjang tubuh ± 5-25 mm, tubuh bagian dorsal lebih berwarna gelap dari pada ventral. Pada tengah dorsal kepala ada bintik mata (fungsinya membedakan cahaya gelap dan terang). Lubang mulut terletak di tengah bagian ventral perut ke arah ekor.

Lubang mulut berhubungan dengan kerongkongan dengan dinding terdapat otot daging sirkular dan longitudinal. Kerongkongannya bisa ditarik dan dijulurkan. Kerongkongan dalam keadaan menjulur (proboscis). Pada sepanjang pinggiran tubuh bagian ventral terdapat “zona adesif” penghasil lendir (untuk melekatkan diri ke permukaan yang ditempeli). Bagian ventral ditutupi rambut-rambut getar halus sebagai alat gerak.

  1. Sistem pencernaan makanan

Makanannya berupa bangkai hewan atau hewan kecil lainnya. Alat pencernaannya terdiri dari 1. Mulut 2. Faring 3. Esofagus 4. Usus halus (intestine). Lubang mulut dilanjutakan oleh kantung silindris memanjang dan disebut rongga mukut ( rongga faringeal). Esofagus merupakan persambungan dari faring yang langsung bermuara ke usus. Usus bercabang tiga ), satu menuju ke anterior, yang dua secara berjajar bersebelahan menuju ke posterior. masing-masing bercabang lagi ke arah lateral yang buntu (diventrikulata/diventrikulum). Faring masing-masing terletak dalam sarung otot, probosis (faring) dapat keluar melalui mulut dan di belakang mulut terdapat porus genital. Planaria sebagian besar karnivora. Pada faring yang berotot tebal yang dapat dijulurkan berfungsi sebagai penangkap mangsa kecil seperti Dafnia, cacing lainnya ataupun bangkai.planaria memiliki kemoreseptor pada sisi kanan dan kiri anterior, sehingga memungkinkan untuk bereaksi terhadap zat makanannya yang berupa rangsangan zat protein. Jika mangsanya tersentuh maka ujung anterior akan berbelok dengan cepat kearah mangsa dan kemudian akan melingkarinya. Dengan lendir di ekskresikan oleh kelnjar mukosa dan “ rhabdites” mangsa dapat diikat erat. Kemudian faring ditonjolkan  keluar untuk mengambil mangsa dan segera di tarik kembali kedalam rongga mulut bersama-sama mangsa tersebut.

Pencernaan pada planaria terjadi di dalam sel (interseluler) dan diluar sel (ekstraseluler).untuk pencernaan dalam sel terjadi dengan pertolongan vakuola makanan  yang berupa rongga untuk mencerna makanan. Untuk pencernaan luar sel dibantu oleh enzim yang dibentuk usus . cara menagkap mangsanya pertama-tama makanan ditangkap oleh probiosis kemudian diselaputi lendir ( lendir yang diproduksi oleh kelejar lendir) atau cairan pencernaan yang ditempatakan disekitar makanan, makanan yang larut kemudian diserap usus. Makanan di cerna secara ekstraseluler, kemudian sel-sel tertentu pada epitel usus dapat membentuk pseudopodia dan mencerna makananannya / mangsanya di dalam vakuola makanan (pencernaan intraseluler). Sari-sari makanan di serap (absorpsi) dan secara difusi masuk keseluruh jaringan tubuh. Planaria tidak memiliki anus pada saluran pencernaan makanan sehingga buangan / sisa makanan yang tidak dicerna di keluarkan kembali dari usus melalui mulut. Jika persediaan makanannya habis atau tidak ada maka ia akan memakan tubuhnya sendiri. Dan organ pertama yang dikorbankan adalah organ bagian reproduktif, kemudaian sel-sel parenkim, otot dan seterusnya sehingga tubuhnya berukuran kecil. Dan planaria ini dapat meregenerasikan sel-selnya yang sudah hilang (rusak) atau termakan oleh dirinya sendiri ketika ia telah menemukan makanan kembali.

  1. Sistem ekskresi

Sistem ekskresinya terdiri atas sepasang saluran longitudinal yang berbentuk seperti jala  yang terletak di seluruh tubuh , yang mana pada ujung cabang-cabang yang halus itu ujungnya membesar yang kita sebut sel api atau flame sel (protonephridia) . Sel api mengandung silia yaitu rambut getar yang didalamnya membetuk seperti api dan  berfungsi mendorong air dan sisa metabolisme masuk kedalam saluran ekskresi . limbah sisa secara difusi masuk kedalam sel api, menuju ke ruang tengah yang bersilium dan bermuara dalam tabung-tabung . Karena gerakan silium makan limbah akan terdorong keluar melalui pori-pori ekskresi. pengeluaran sisa metabolisme berlangsung selain melalui saluran eksresi , juga melalui lapisan gastrodermis.

  1. Sistem respirasi

Belum memiliki organ respirasi khusus sehingga pertukaran gas berlangsung secara difusi melalui seluruh permukaan tubuhnya.

  1. Sistem saraf

Sistem saraf (tangga tali), terdiri dari ganglion serebral terletak di bagian kepala dan berfungsi sebagai otak. Pada planaria terdapat otak yang terdiri dari dua lobus, dari otak keluarlah 2 tali saraf yang menuju kearah belakang dalam mesenkim bagian ventral, yang disebut tali saraf longitudinal. Dari saraf longitudinal keluarlah cabang-cabang saraf lateral ke tepi badan. Kedua tali saraf itu saling berhubungan karena adanya saraf transversal, sehingga bentuknya seperti tangga. Dari otak (ganglion serebral) keluar pula saraf-saraf ke bagian depan kepala.

Otak pada planaria ini tidak dibutuhkan untuk koordinasi kontraksi badan karena pada penelitian ketika otaknya diambil tetapi masih terlihat adanya pergerakan, kontraksi otot. Tetapi di temukan jika otak dapat berfungsi untuk menyelenggarakan pergantian sensori yang menerima stimulus dari indera ke bagian lain.

Sel-sel sensori

Terdapat pada permukaan tubuh di dalam sel-sel epitel, dan ujungnya lancip serta berhubungan dengan dunia luar. Terdapat bermacam-macam sifat antara lain peka terhadap suhu, bahan kimia serta lainnya. Di kepala, sel-sel indera terkonsentrasi membentuk indera.

Lobus sensori

Berupa penjuluran ke setiap sisi kepala, sensitif pada perabaan, aliran air, makanan, dan bahan makanan. Mata indera peka terhadap pencahayaan. Masing-masing terdiri dari mangkuk pigmen hitam, penuh dengan sel-sel sensori khusus, dengan ujung berupa saraf masuk kedalam otak. Pigmen melindungi sel-sel sensori.  mata sensitif terhadap cahaya yang datang  ujung yang terbuka dari mangkuk pigmen.

  1. Alat Indera

Alat indera pada planaria adalah bintik mata dan indera aurikel yang keduanya terletak di bagain kepala. Bintik mata berupa titik hitam yang terletak dibagaian dorsal kepala. Masing-masing bintik mata terdiri dari sel pigmen yang mana tersusun dalam bentuk mangkok yang yang dilengkapi dengan sel-sel syaraf sensoris yang sensitif pada cahaya atau sinar. Bintik mata hanya bisa membedakan warna gelap dan terang saja.

Planaria bersifat photonegatif. Dari kenyataan bila planaria terkena cahaya salah satu sisinya maka cacing tersebut segera bergerak menjauhi cahaya.  Aurikel merupakan indera rasa , bau dan sentuhan. Jika aurikelnya tidak berfungsi maka hewan tersebut tidak dapat mengetahui jenis makanan kesukaannya.

  1. Sistem reproduksi

Reproduksi pada cacing pipih seperti Planaria dapat secara aseksual dan secara seksual. Reproduksi aseksual (vegetatif) dengan regenerasi yakni memutuskan bagian tubuh. Sedangkan reproduksi seksual (generatif) dengan peleburan dua sel kelamin pada hewan yang bersifat hemafrodit. Sistem reproduksi seksual pada Planaria terdiri atas sistem reproduksi betina meliputi ovum, saluran ovum, kelenjar kuning telur. Sedangkan reproduksi jantan terdiri atas testis, pori genital dan penis. Perhatikan gambar sistem reproduksi Planaria.

Planaria bersifat hemaprodit , yang bisa memiliki kelamin jantan dan betina. Untuk organ kelamin terdiri atas :

  1. Testis (berjumlah ratusan, berbentuk bulat tersebar disepanjang sisi kedua tubuh)
  2. Vasa eferensia (pembuluh berjumlah dua buah yang masing-masing membentang pada setiap sisi tubuh yang keduanya bertemu dan bermuara pada kantung yang disebut vesiculus seminalis ( ruang yang fungsinya menampung dan menyalurkan sperma menuju penis
  3. Penis ( alat kopulasi pada perkawinan silang dengan palnaria lain ke ruang genitalis).
  4. Ruang genitalis

Organ kelamin betina terdiri atas :

  1. Ovari, dua buah, berbentuk bulat dibagian anterior tubuh .
  2.  Oviduck (saluran telur), tiap ovarium akan menuju ke arah posterior sebuah saluran yang kita kenal adalah oviduct,antara saluran yang kiri dan kanan bersejajar yang masing-masing dilengkapi dengan kelenjar yang menghasilkan kuning telur.
  3. Kelenjar kuning telur (yolk gland), menghasilkan kuning telur untuk sel telur bila telah diproduksi oleh ovarium.
  4. Vagina , saluran spermatozoid dari planaria lain yang kemudian spermatozoid akan disimpan dalam ruangan receptaculus seminalis.
  5. Uterus (receptaculus seminalis), ruangan yang menggelembung untuk menyimpan spermatozoid planaria lain.
  6. Genital atrium(ruang genital), muara bersama antara dua oviduct

Reproduksi aseksual pada planaria ;

 

Gambar  Reproduksi aseksual Planaria

A. Terpotong secara alami
B. Dibelah dua
C. Dibelah tiga

Daya regenerasi pada planaria sangat baik bila hewan ini dipotong  menjadi 2 bagian, maka bagian depan akan tumbuh ekor baru dan bagian posterior akan tumbuh kepala baru. Sehingga dapat membentuk 2 individu baru (fragmentasi). Potongan-potongan lain juga dapat membentuk individu baru dengan membentuk ekor atau kepala baru. Bila dalam keadaan lapar tak ada makanan maka dapat memakan organ tubuhnya sendiri dari organ reproduksi, parenkim, usus , otot sehingga menjadi kecil ukurannya, setelah menemukan makanan maka organ-organ yang termakan akan beregenerasi .

Gradien antero-posterior

Planaria memiliki gradien as dari depan ke belakang, proses metabolisme terjadi dari ujung anterior menuju ke posterior. Misalkan : jika planaria terpotong menjadi 4 bagian , maka bagian kepala akan menghabiskan O2 dan memberikan CO2 lebih banyak dari bagian lainnya.

 

Glosarium

 

  • Dorsal                          : sebutan permukaan yang menjauhi sumbu (permukaan sisi bawah).
  • Ventral                                    : permukaan bawah atau sisi perut organ tubuh hewan, permukaan dalam atau yang mendekati sumbu (sisi atas) pada tumbuhan.
  • Aurikel                        : merupakan indera rasa,bau dan sentuhan
  • Proboscis                     : Kerongkongan dalam keadaan menjulur keluar
  • Anterior                       : Bagian depan atau kepala
  • Posterior                      : Posisi yang menyatakan terletak dibelakang atau belakang sumbu tubuh
  • Diventrikulum             : suatu tabung atau kantung dengan ujung yang buntu,  sebagai percabangan dari suatu saluran atau rongga
  • Vakuola                       : ruangan di dalam sitoplasma (cairan sel) yang berisi cairan yang isotonik (konsentrasi sama) dengan sitoplasma dan dikelilingi satu selaput
  • Pseudopoda                : organ yang menyerupai kaki (kaki semu)
  • Parenkim                     : Jaringan tak terspesialisasi yang umumnya terdiri dari sel isodiametris berdinding tipis tak berlignin dan bersi protoplasma.
  • Protonephridia                        :
  • Gradien
  • Ganglion serebral
  • Bintik mata
  • Photonegatif
  • Hemaprodit
  • Fragmentasi

 

5 thoughts on “fisiolologi planaria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s