pembahasan praktikum Respirasi pada jangkrik

Data Hasil Pengamatan
NO
Berat tubuh
Hewan
Skala kedudukan Eosin per 2 menit
1
2
3
4
5
1
0,45 gr
0,12 ml
0,23 ml
0,29 ml
0,36 ml
0,4 ml
2
0,05 gr
0,25 ml
0,4 ml
0,5 ml
0,59 ml
0,65 ml
Pertambahan sakala pada tiap 2 menitnya
NO
Berat tubuh
Hewan
PERTAMBAHAN TIAP 2 MENITNYA
1
2
3
4
5
1
0,45 gr
0,12 ml
0,11ml
0,06 ml
0,07 ml
0,04 ml
2
0,05 gr
0,25 ml
0,15 ml
0,1 ml
0,09 ml
0,06 ml
PEMBAHASAN
 analisis data
Berdasarkan percobaan yang kami lakukan didapatkan analisis data pengamatan yang berupa kenaikan dan penurunan laju pernafasan pada percobaan.
            Pada percobaan pertama yang kami lakukan di 2 menit pertama pada jangkrik yang bertubuh kecil didapatkan perpindahan titik eosin ( tinta) yang menujukkan skala 0,12 ml dengan perlakukan yang sama di menit yang ke-4  menunjukkan skala 0,23 ml yang mana terjadi pertambahan 0,11 ml lalu di menit ke -6 tinta (eosin) bergeser ke 0,29 ml yang mana terjadi pertamabahan sebesar 0,06 ml dari 2 menit sebelumnya, kami mengujinya lagi di menit ke 8 yang mana masih terjadi laju perpindahan tinta menunjuk ke skala 0,36 ml yang juga terjadi pertambahan sebanyak 0,07 ml dari skala awal. Untuk pengujian di menit ke 10 kami melihat masih terjadi pergerakan eosin dari skala 0,36ml menuju ke skala 0,4 ml dengan pertambahan skala 0,04 ml. Dapat dilihat perubahan pertambahan skala dari yang awalnya besar menuju ke pertambahan yang sedikit yaitu dari menit ke 2 sampai menit ke 10 ; dari 0,12 ml ;0,11ml;0,06 ml; 0,07 ml; 0,04 ml terjadi penurunan skala
            Pada percobaan ke kedua kami melakukan hal yang sama dengan percobaan yang pertama dengan tempat, bahan dan alat yang sama kami melakukan pengujian tetapi dengan object yang berbeda yaitu jangkrik yang ukurannya lebih besar, pada 2 menit pertama kami melihat skala yang di tunjukkan oleh eosin adalah 0,25 ml pada menit ke 4 kami melihat pergerakan eosin menuju ke skala 0,4 ml yang mana terjadi pertambahan 0,15m. Pada menit ke -6 kami mengamati lagi dan eosin menunjukkan skala 0,5 ml sehingga terjadi pertambahan 0,1ml pada menit ke-6. Kami mengamati kembali di menit ke-8 eosin menunjukkan skala 0,59ml itu menunjukkan pertambahan sebesar 0,09ml yang kemudian di menit ke 10 kami mengamati eosin menunjukkan skala 0,65 dan terlihat pertambahan sekitar 0,06 ml. Untuk ukuran jangkrik yang besar ini analisis data menunjukkan penurunan juga yaitu dengan skala dai 0,05ml;0,25ml;0,15ml;0,1ml;0,09ml;0,06ml.
            Pada percobaan tentang pernafasan pada hewan terutama pada jangkrik ini kami membuat variabel terkontrolnya adalah jenis jangkrik dan tempat. Variabel bebasnya adalah ukuran ikan dan waktu. Variabel terikatnya adalah skala pergerakan ikan setiap 2 menit sekali. Maksud dari penggunaan KOH berbentuk kristal  pada percobaan diatas ini adalah sebagai pengikat gas hasil respirasi dari serangga yaitu gas CO2 yang dihembuskan ke ruangan respirometer. Penggunaan eosin atau tinta pada percobaan dapat menunjukkan skala oksigen yang di gunakan pada proses respirasi jangkrik. Yang mana oksigen di dalam repirometer tersebut dapat dihitung dari skala yang ada melalui pergerakannya.  saat eosin bergerak maka dapat diketahui jika jangkrik sedang mulai bernafas atau menghirup O2 bebas yang tersedia di respirometer. Kecepatan pernafasannya per 2 menit dapat dilihat dari pergerakan yang ada pada titik awal skala sampai titik akhir skala . Pada keduanya jangkrik yang besar ataupun yang kecil laju pernafasannya melambat setelah menit ke 6 sampai ke 10 ini diakibatkan oleh kondisi O2 yang semakin lama semakin berkurang di ruang respirometer. Pada jangkrik yang berubuh besar kebutuhan oksigennya lebih banyak dapat dilihat dari data pengamatan skalanya jauh lebih cepat di banding jangkrik yang bertubuh kecil. Disini massa atau berat tubuh jangkrik sangat mempengaruhi. Semakin besar tubuh jangkrik atau organisme maka semakin banyak O2 yang dibuthkan untuk proses respirasi berarti ukuran tubuh berbanding lurus dengan kebutuhan oksigen.
KESIMPULAN
            Dari percobaan kelompok kami lakukan dapat di simpulkan beberapa hal terkait dengan pernafasan pada jangkrik yaitu;
1.      Jankrik bernafas dengan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.
2.      Fungsi dari KOH dalam percobaan adalah untuk mengikat gas buangan karbondioksida dari pernafasan jangkrik.
3.      Fungsi eosin pada percobaan sebagai petunjuk laju kecepatan pernafasan.
4.      faktor – faktor yang mempengaruhi pernafasan pada jangkrik atau hewan adalah ukuran atau berat badan tubuh jangkrik, ketersediaan oksigen yang cukup dalam ruangan (respirometer), suhu ruangan.
SARAN
  • Keberhasilan percobaan/eksperimen ini tergantung tergantung pada bocor tidaknya alat. Disarankan hubungan antara tabung dan bagian berskala diolesi dengan vaselin lalu diputar-putar.
  • Perubahan suhu udara (bila menjadi panas) menyebabkan titik air yang sudah bergerak ke arah tabung dapat bergerak kembali ke arah luar. Oleh karena itu sebaiknya percobaan diadakan dalam waktu perubahan suhu tidak besar. Sebaliknya bila suhu menurun, tetes air cepat bergerak ke arah tabung spesimen.
  • Sebelum disimpan, spesimen hewan dikembalikan ke tempatnya dan KOH yang biasanya meleleh segera dikeluarkan dan tabung dicuci bersih. Jika kurang bersih dan tabung tertutup, maka akan terjadi respirometer tak dapat dibuka lagi, karena merekat oleh KOH.

One thought on “pembahasan praktikum Respirasi pada jangkrik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s